Polling

Bagaimanakah kinerja BPBD Kabupaten Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Berita / Berita Terbaru / Detail

Kilas Balik LETUSAN TAMBORA YANG MERUBAH IKLIM DUNIA

Berita Terbaru 17 Mei 2018 08:25:18 WIB Pusdalops dibaca 45 kali

Tanggal 10 April 1815, dunia mengenang letusan mahadahsyat dari Gunung Tambora. Lebih

dari 2 abad telah berlalu, dan hingga saat ini letusannya dikenal sebagai salah satu letusan

gunung berapi terbesar dalam sejarah. Tak hanya di Indonesia, dampak letusannya dirasakan

hingga ke daratan Eropa dan merubah iklim dunia dalam beberapa tahun ke depan.  

Mengapa demikian ? Hal yang perlu diketahui bahwa cuaca dan iklim memiliki sifat yang

sangat dinamis. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti kekuatan fenomenan cuaca

dan iklim, waktu kejadian, luasan kejadian baik yang terjadi di lautan maupun yang terjadi di

atmosfer. Oleh karena itu apa yang terjadi di daratan akan mempengaruhi kondisi di atmosfer

begitu pula sebaliknya apa yang terjadi di atmosfer akan berpengaruh terhadap kondisi

daratan. Hal ini pula yang terjadi pada letusan gunung berapi. Letusan kecil pun dapat

mempengaruhi cuaca dan iklim di bumi akibat material letusan yang di keluarkan oleh gunung

berapi. 

MERUBAH IKLIM DUNIA

Pada tanggal 5 April 1815, Gunung Tambora meletus untuk pertama kalinya dan diikuti

dengan letusan terdahsyatnya pada tanggal 10 April 1815, dimana pada saat itu material

vulkanik yang dikeluarkan diperkirakan sekitar 160 km kubik dengan tinggi asap letusan

diperkirakan mencapai 43 km hingga masuk ke lapisan stratosfer. Ketinggian gunung tambora

sebelum meletus di perkirakan sekitar 4000 meter di atas permukaan laut dan berkurang

menjadi sekitar 2800 meter setelah aktivitas vulkanik tersebut. Material vulkanik yang

dikeluarkan gunung tambora pada saat itu luar biasa banyaknya dan mengakibatkan

penyimpangan iklim di dunia pada tahun 1816 hingga 1817. 

Material akibat letusan gunung berapi yang terdiri dari awan panas, debu, aerosol dan gas 

sulfur terbawa tinggi ke atmosfer hingga ke daratan Eropa. Berdasarkan penilitian Richard

Stothers (1984) abu dari letusan gunung tambora jatuh setidaknya sejauh 1300 km bahkan

menurut beberapa ahli lainnya abu tersebut mencapai wilayah eropa dan sekitarnya karena

terbawa oleh angin. Material vulkanik pada lapisan stratosfer tersebut menyebabkan

terhalangnya sinar matahari masuk ke bumi sehingga pada tahun 1816 sejarah mencatat

bahwa terdapat “tahun tanpa musim panas” di belahan bumi utara.  

Lapisan stratosfer merupakan lapisan atmosfer yang sangat penting bagi bumi dan

kehidupannya, di mana lapisan ini memiliki konsentrasi ozon yang dipengaruhi oleh sinar

Matahari. Konsentrasi ozon berada pada lapisan stratosfer pada ketinggian 20 km dan 

memiliki peran menyerap radiasi sinar ultra violet sehingga suhu bumi menjadi relatif stabil

dan hangat dan menjaga kehidupan bumi dari bahaya sinar ultraviolet itu sendiri. Sinar

matahari memiliki dua jenis gelombang yaitu gelombang pendek yang di keluarkan l angsung

dari Matahari dan gelombang panjang yang di pantulkan dari bumi. Gelombang pendek yang

di pancarkan oleh matahari menurut konsep dasar pengindraan jarak jauh dan pengolahan

citra (Bakosurtanal, 1995) prosentase radiasi matahari yang masuk ke bumi yaitu 3% di serap

oleh lapisan ozon, 25% di pantulkan oleh awan , 19% diserap oleh debu dan gas, 45% di serap

oleh bumi dan 8% di pantulkan kembali dari permukaan bumi ke atmosfer yang di sebut

dengan gelombang panjang. Hampir setengah dari radiasi matahari yang datang di gunakan

untuk menghangatkan bumi ketika kondisi atmosfer tidak mengalami gangguan atau dalam

keadaan normal. 

Dapat dibayangkan berapa energi dari radiasi matahari yang hilang untuk memanaskan bumi

ketika langit tertutup oleh material letusan tambora selama satu hingga dua pekan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Richard Stothers (1984) terhadap suhu udara

akibat ganguan yang berada di atmosfer paska letusan tambora memberikan informasi bahwa

terjadi penurunan suhu udara dunia sebesar 0.4?C – 0.7?C dari normalnya. Hal ini

menyebabkan banyak masalah khususnya dari segi pertanian dan berpengaruh pada

meningkatnya angka kematian akibat kelaparan. Gillen D’Arc Wood dalam bukunya “Tambora

: Letusan Raksasa dari Indonesia 1815” juga menjelaskan hasil panen di Eropa Barat menurun

hingga lebih dari 75%. Selain itu kecaman suhu dingin di wilayah eropa juga terjadi, dimana

dari beberapa jurnal menerangkan adanya perubahan temperatur selama musim panas tahun

1816 hingga 1818 sebesar -0.29?C hingga -0.51?C. Beberapa kejadian badai salju juga tercatat

bahkan pada saat musim panas tahun 1816 dengan ketebalan salju setinggi 30 cm. Selain

dikenal dengan “tahun tanpa musim panas”, akibat dari meletusnya gunung tambora juga di

kenal dengan “tahun tanpa munson (monsoon)”. Hal ini terjadi pada tahun 1817, di wilayah

Benggala India dilanda fenomena El Nino dan menyebabkan adanya wabah penyakit kolera

dan menyebar hingga ke Myanmar, Thailand, Filipina, Jepang, dan Cina bahkan hingga Persia. 

Kesedihan yang melanda dari dampak negatif ditimbulkan letusan gunung tambora seperti

penyimpangan iklim dan kematian tertutupi oleh hal lain yang memberi nilai postif pada

wilayah ini. Tambora menjadi  kaya akan ekosistem dan memiliki lahan pertanian yang subur.

Bahkan kawasan gunung tambora menjadi bagian kawasan strategis di provinsi Nusa

Tenggara Barat, dimana pada setiap bulan April pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat

mengadakan festival untuk memperingati meletusnya gunung Tambora seperti pada tahun

ini diadakan festival “Tambora Menyapa Dunia 2018”. Gaungan akan informasi mitigasi

bencana terutama mitigasi terhadap gunung berapi menjadi salah satu fokus utama dalam

festival ini mengingat wilayah Indonesia yang masuk dalam kawasan “Ring of Fire” atau Cincin

Api pasifik.


Source : Afriyas Ulfah - Prakirawan Iklim BMKG