Menjadi Salah Satu Kabupaten Rawan Tsunami, Kebumen Terima Peta Bahaya Tsunami dari BMKG Banjarnegara dan Stasiun Geofisika Semarang

Menjadi Salah Satu Kabupaten Rawan Tsunami, Kebumen Terima Peta Bahaya Tsunami dari BMKG Banjarnegara dan Stasiun Geofisika Semarang
Wakil Bupati Kebumen Hj. Ristawati Purwaningsih, S.ST.MM.
Terima Peta Rawan Bencana Tsunami Level Kecamatan Serta Credential (User dan
Password) Aplikasi SIRITA (Sirens For Rapid Information On Tsunami Alert) dari
Koordinator BMKG Jawa Tengah Sukasno di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen pada
Senin (24/5/2021).
Peta bahaya bencana ini menjadi sangat
penting karena sebagai informasi awal kepada warga yang tinggal di sekitar
pesisir pantai. Masyarakat harus mengetahui ancaman yang ada di wilayahnya
kemudian diharapkan mereka dapat berupaya bersama-sama dengan pemerintah untuk
mengurangi risiko atau dampak jika bencana terjadi.
SIRITA merupakan aplikasi berbasis android
yang akan memberikan peringatan dini jika terjadi gempa yang berpotensi tsunami
kepada user atau pengguna yang sedang berada di wilayah rawan tsunami. Aplikasi
ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya efektif dalam mengurangi risiko
bencana tsunami dan juga perlu disosialisasikan kepada seluruh warga, terutama
di daerah pesisir pantai.
Dalam sambutannya Wabup sampaikan terimakasih kepada BMKG
atas penyerahan peta rawan bencana tsunami level kecamatan. Juga atas
penyerahan credential dari aplikasi SIRITA. “Ini tentu akan sangat membantu
kami dalam membuat perencanaan juga pelaksanaan penanganan bencana. Meski kita
semua berharap, bencana tsunami tidak akan terjadi”, ucapnya.
Pemerintah memang harus bekerjasama, berkolaborasi dan
bersinergi untuk meminimalisasi dampak bencana, khususnya tsunami.
Hadir dalam kesempatan tersebut Plt Kalakhar
Badan Penanggulangan Bencana daerah, Drs. Eko Widianto, Pejabat TNI dan Polri
serta beberapa Pimpinan OPD.
Banyak hal yang perlu dipersiapkan dan diantisipasi oleh
pemerintah, aparat maupun masyarakat. Juga perlunya pemahaman konsep penanganan
bencana dari paradigma konvensional menuju paradigma mitigasi/preventif.
Paradigma konvensional menganggap bencana sebagai peristiwa/kejadian tak terelakkan.
Dan korban harus segera mendapat pertolongan. Dengan fokus penanganan bencana
lebih bersifat bantuan dan kedaruratan saja.
Sedangkan paradigma mitigasi, lebih diarahkan pada upaya
untuk menekan timbulnya dampak bencana. Baik secara fisik struktural melalui
pembuatan bangunan fisik, maupun non fisik-struktural melalui regulasi dan
pelatihan. Salah satunya dengan informasi peta bencana ini.
Hal ini sangat penting, karena sesungguhnya kedudukan
masyarakat adalah sebagai subjek dan bukan objek dalam penanganan bencana.
Di sisi lain, tingginya ancaman harus diimbangi oleh
penguatan kapasitas masyarakat untuk menurunkan tingkat kerentanan masyarakat.
Pengelolaan bencana merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat. Untuk itulah,
ke depan edukasi serta penyebarluasan informasi tentang upaya mitigasi semakin
dikuatkan. Wabup juga berharap, semakin banyak kalangan yang memberikan
kontribusi lagi dalam penanggulangan bencana.
Informasi Peta Bencana (SITANA) Tsunami ini dapat diakses di website http://www.bpbd.kebumenkab.go.id (Eka/h4r/*)
Sitana
informasipetabencana
kebumentangguhbencana