Jangan Cuma Salahkan Kemarau, 32 Kebakaran Lahan di Kebumen Berawal dari Kelalaian Manusia
Jangan Cuma Salahkan Kemarau, 32 Kebakaran Lahan di Kebumen Berawal dari Kelalaian Manusia
KEBUMEN - Musim kemarau yang melanda Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, memicu lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan rincian data laporan dari Pusdalops BPBD Kabupaten Kebumen hingga update 23 September 2026, tercatat sebanyak 32 kejadian karhutla telah terjadi di berbagai lokasi. Bencana ini meluas dan terdampak pada 27 desa yang tersebar di 11 kecamatan. Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD mengonfirmasi bahwa seluruh 32 kejadian telah berhasil ditangani oleh tim gabungan di lapangan hingga berstatus selesai, serta dipastikan tidak ada korban jiwa dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Dari grafik sebaran kejadian per kecamatan, Kecamatan Kebumen menjadi wilayah yang paling banyak diterpa dengan total 7 kejadian kebakaran. Posisi berikutnya ditempati oleh Kecamatan Sempor dengan 6 kejadian dan Kecamatan Karanggayam sebanyak 4 kejadian. Selain tiga kecamatan tersebut, beberapa wilayah lain juga mencatatkan insiden serupa, yakni Kecamatan Alian, Ayah, Pejagoan, dan Buayan masing-masing sebanyak 3 kejadian. Sementara itu, Kecamatan Karanganyar, Petanahan, Sadang, serta Rowokele masing-masing mencatatkan 1 kejadian kebakaran lahan.
Berdasarkan hasil assesmen mengungkapkan bahwa kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia menjadi penyebab utama maraknya karhutla. Cuaca musim kemarau yang ekstrem memicu suhu panas dan kelembapan rendah, sehingga membuat vegetasi serta semak belukar menjadi sangat kering dan rentan terbakar. Situasi diperparah oleh tiupan angin kencang yang mempercepat perambatan api hingga menyulitkan proses pemadaman awal.
Di sisi lain, tindakan manusia seperti pembakaran sampah atau limbah sembarangan yang merembet ke area kering, pembakaran sengaja untuk membuka lahan pertanian, serta beberapa pemicu lain yang masih belum diketahui, menjadi pemantik utama munculnya titik api. Dalam penanganannya, BPBD menerapkan alur sistematis mulai dari laporan masuk, asesmen dan koordinasi, eksekusi pemadaman, pendinginan, pemantauan, hingga status dinyatakan selesai.
Menyikapi tingginya risiko karhutla, edukasi pencegahan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Bagi kelompok anak-anak dan pelajar, pihak sekolah dan orang tua diimbau menanamkan pemahaman untuk tidak sesekali bermain dengan sumber api seperti korek, kembang api, atau membuat api unggun di area semak kering. Untuk kalangan ibu rumah tangga dan warga pemukiman, kebiasaan membersihkan pekarangan dengan cara membakar sampah limbah harus dihentikan dan beralih ke metode pembuatan kompos atau penumpukan sampah tertutup agar tidak merembet. Sementara untuk kalangan petani serta pemilik lahan perkebunan, praktik pembersihan lahan dengan teknik pembakaran wajib ditinggalkan karena potensi api lepas kontrol sangat tinggi saat angin kencang. Bagi kalangan dewasa dan pengguna jalan, disiplin mematikan puntung rokok secara sempurna sebelum dibuang juga menjadi kunci vital pencegahan.
Langkah kolaboratif dari seluruh elemen masyarakat ini menjadi benteng utama dalam memutus rantai kejadian karhutla di Kabupaten Kebumen. BPBD mengimbau siapapun yang melihat adanya indikasi percikan atau kobaran api di lingkungan sekitar untuk tidak panik dan segera melakukan tindakan awal jika aman, atau langsung menghubungi Pusdalops.
