Gugus Kantil Sruweng Kenalkan Kesiapsiagaan Bencana Sejak Dini di BPBD Kebumen
Gugus Kantil Sruweng Kenalkan Kesiapsiagaan Bencana Sejak Dini di BPBD Kebumen
KEBUMEN – Sebanyak 103 siswa dari enam lembaga sekolah yang tergabung dalam Gugus Kantil, Kecamatan Sruweng, mengikuti kegiatan edukasi kebencanaan di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen, Jumat (21/2/2025). Kegiatan tersebut turut didampingi oleh 17 guru dan 70 wali murid.
Kunjungan edukatif ini menjadi sarana untuk mengenalkan pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana kepada anak-anak sejak usia dini. Melalui kegiatan tersebut, para siswa diajak memahami berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di lingkungan sekitar serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risikonya.
Dalam sesi edukasi, narasumber dari BPBD Kabupaten Kebumen memberikan materi mengenai pengenalan bencana, jenis-jenis bencana, potensi ancaman, serta risiko yang dapat ditimbulkan. Para siswa juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya bersikap tenang dan mengikuti arahan orang dewasa maupun petugas ketika menghadapi situasi darurat.
Tidak hanya mendapatkan materi, peserta juga diajak mengikuti praktik secara langsung. Sejumlah simulasi diberikan, di antaranya penggunaan pelampung yang benar, pengenalan cara mengoperasikan perahu, serta teknik dasar pemadaman kebakaran lahan.
Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari para siswa. Mereka tampak bersemangat mengikuti arahan tim BPBD serta mencoba berbagai peralatan yang diperkenalkan selama kegiatan berlangsung.
Edukasi kebencanaan sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting dalam membangun budaya sadar bencana. Anak-anak tidak hanya diharapkan mampu mengenali potensi bahaya, tetapi juga mengetahui tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk melindungi diri ketika bencana terjadi.
Melalui kegiatan ini, BPBD Kabupaten Kebumen berharap pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi siswa, guru, dan wali murid untuk meningkatkan kesiapsiagaan di lingkungan sekolah maupun keluarga. Dengan semakin banyak masyarakat yang memahami risiko bencana dan cara menghadapinya, diharapkan upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan secara bersama-sama sejak dari lingkungan terkecil.
