BPBD Kebumen Gelar Uji Fungsi EWS Tsunami, Selaraskan Simulasi Nasional BMKG di Selatan Jawa
BPBD Kebumen Gelar Uji Fungsi EWS Tsunami, Selaraskan Simulasi Nasional BMKG di Selatan Jawa
Kebumen – Sirine peringatan dini tsunami menggema di sepanjang pesisir selatan Kebumen pada Kamis (25/9) pagi. Bunyi tersebut bukan tanda bahaya sesungguhnya, melainkan bagian dari Uji Fungsi Early Warning System (EWS) Tsunami yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen. Kegiatan ini bertepatan dengan Simulasi Nasional Gempabumi dan Tsunami yang digelar BMKG serentak mulai dari pesisir Sumatera hingga Jawa.
BMKG merilis skenario gempa magnitudo 9,0 di Selat Sunda pada pukul 08.00 WIB, yang berpotensi menimbulkan tsunami dengan ketinggian gelombang bervariasi antara 4–10 meter di sejumlah wilayah pantai selatan Jawa, termasuk Kebumen. Melalui sistem InaTEWS, informasi ini diteruskan secara cepat ke pemerintah daerah dan masyarakat untuk melaksanakan langkah evakuasi.
BPBD Kebumen segera mengaktifkan EWS di beberapa titik sepanjang pesisir, memastikan sirine berbunyi normal dan dapat didengar masyarakat. Petugas lapangan mengarahkan warga mengikuti simulasi evakuasi menuju jalur dan titik kumpul aman yang telah ditentukan.
Alur Evakuasi Mandiri (Skenario Simulasi):
1. Segera keluar bangunan begitu sirine berbunyi atau merasakan guncangan gempa kuat.
2. Gunakan jalur evakuasi yang sudah dipasang rambu menuju titik aman (berada minimal 2 km dari pantai atau di ketinggian >20 meter).
3. Hindari penggunaan kendaraan bermotor untuk mencegah kemacetan.
4. Utamakan kelompok rentan (anak-anak, lansia, difabel, ibu hamil).
5. Jangan kembali ke rumah untuk mengambil barang hingga ada informasi resmi dari BPBD/BMKG.
6. Tunggu di titik kumpul evakuasi sampai ada pengumuman resmi bahwa peringatan tsunami dinyatakan berakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kebumen menyampaikan, uji fungsi EWS dan simulasi bencana ini bertujuan untuk memastikan sistem peringatan dini bekerja optimal sekaligus melatih masyarakat agar sigap melakukan evakuasi mandiri. Dengan latihan rutin, diharapkan risiko korban jiwa akibat bencana gempabumi dan tsunami dapat ditekan seminimal mungkin
